TAWAKAL Setelah Optimal Berikhtiar.

birds png from pngtree.com
Tawakal adalah salah satu amalan hati yang mulia masih mengabaikan tentang pentingnya tawakal atau masih keliru dalam memahami dan mengamalkannya.

Masih mengabaikan karena beranggapan bahwa kesembuhan hanya bisa terjadi apabila ditangani oleh dokter yang hebat, therapist yang terkenal, obat yang manjur dan rumah sakit yang modern semata, tanpa melibatkan Allah.

Masih keliru karena beranggapan bahwa tawakal adalah sikap pasrah berdiam diri, tanpa melakukan ikhtiar pengobatan sama sekali, tinggal menunggu kapan Allah akan memberikan kesembuhan.


PENJELASAN.

Kita tidak bisa terlepas dari ketergantungan kepada Allah walau hanya sekejap. Jika kita mencoba bersandar kepada diri kita sendiri, maka kita telah meyerahkan diri kita kepada kelemahan, kekurangan, kekhilafan dan kesalahan diri.

Atau bila kita bersandar kepada orang lain, maka kita telah mempercayakan kepada yang sedikitpun tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat maupun mudharat. Sehingga tidak ada pilihan kecuali menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Dzat yang ditangan-Nya terdapat segala urusan dan kekuasaan.

Namun demikian, bukan berarti kita meninggalkan ikhtiar sebab akibat, karena ikhtiar merupakan bagian dari kesempurnaa tawakal. Melakukan ikhtiar menunjukkan kesempurnaan dan kekuatan tawakal, sehingga sikap tawakal haruslah dibarengi dengan ikhtiar penyembuhan yang optimal.

(1)  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﻟَﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.“ (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dishohihkan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310).


(2) Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُرْسِلُ نَاقَتِيْ وَأََتَوَ كُّلُ قَالَ : اِغْقِلهَا وَتَوَ كَّلْ 

“Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah” (HR. At-Tirmidzi no. 2517).


Hikmah hadist (1) di atas adalah seekor burung pergi berikhtiar untuk mencari makan, sedangkan hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Sedangkan hikmah hadist (2) adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikat dulu untanya (ikhtiar), kemudian bertawakal apa yang akan Allah tetapkan kemudian.


SEKILAS JALANNYA IKHTIAR.

Setelah dia (anomim) pulang dari rumah sakit pada akhir september 2014, dalam kondisi :

1. Tidak bisa lagi diupayakan penyembuhan / pengobatan, hanya bisa bertahan (hidup) paling lama 3 bulan, karena Tuberkulosis dan Kanker Paru STADIUM 4B yang sudah menjalar ke tulang. Lihat hasil diagnosa di Penyembuh Yang Sebenarnya (1).

2. Penyakit kronis sebelumnya, yaitu diabetes, darah tinggi, pembengkakan dan penyempitan pembuluh darah jantung tidak sempat lagi untuk ditangani.

3. Hanya bisa berbaring lemah tidak bisa bergerak, sekujur tubuh dan kaki kaku sakit luar biasa.

4. Tidak bisa makan sama sekali.

5. Mata Rabun, tidak bisa melihat jauh atau dekat. Pada tahun 2018 baru diketahui karena katarak dan telah dilakukan operasi katarak.

6. Istri dan 2 anaknya, juga ibu bapak mertuanya sudah dihadirkan untuk "berpamitan" sabagai tanda perpisahan.


Berikut sekilas 2 bentuk ikhtiar pengobatan dan penyembuhan yang dia lakukan :

1. Ikhtiar Pengobatan dan Terapi.
  • Tidak ada satupun obat medis yang diminum lagi, tidak melakukan biopsi, terapi radiasi ataupun kemoterapi, karena dianggap sudah sangat terlambat penanganannya.
  • Minum air zamzam saat ada kawan / saudara / ustad yang memberi (tidak rutin).
  • Minum segala macam herbal (organik) yang saat itu ada (tidak rutin), seperti perasan daun sirsak, ekstrak dan juice sirsak manggis, ekstrak habatussaudah, syrup mengkudu, suplemen transfer factor atau apapun yang katanya bisa mengatasi kanker.
  • Untuk mengatasi tidak bisa makan sama sekali, 4 bulan pertama (Oktober - Januari 2014) Minum susu berprotein tinggi dan sejak bulan ke 3 (desember 2014 hingga saat ini 2020) teratur minum susu kambing etawa. Alhamdulillah pada bulan ke 5 berangsur-angsur sudah bisa makan.
  • Untuk mengatasi tubuh tidak bisa bergerak, kaki kaku dan sakit luar biasa, pergi ke seorang dokter herbalist untuk terapi pemijatan tubuh dan kaki, sekaligus untuk mengatasi kankernya. Pada pertemuan ke 3 dokter herbalist mengatakan denyut nadi dan kondisi tubuhnya makin melemah.
  • Sempat 2 x melakukan upaya penyembuhan ke therapist hati, pertemuan pertama dengan susah payah bisa dibawa ke tempat praktek, namun pada pertemuan kedua hanya bisa dilakukan melalui telepon, karena kondisinya semakin memburuk.

2. Ikhtiar Penyembuhan Hati.

Karena selama (kurang lebih) 6 bulan hanya bisa berbaring terlentang, rabun pengelihatan dan tidak jelas membaca, seorang ustad yang telah kenal sejak SMA, dalam kunjungan yang kesekian kalinya menyarankan untuk banyak dan sering :
  • Mendengarkan berbagai kajian / ceramah agama.
  • Membiasakan diri dzikir pagi dan petang, karena dalam dzikir pagi dan petang di dalamnya terkandung taubat, istigfar, doa dan penyerahan diri kepada Allah.

Kemudian pada beberapa kesempatan berikutnya, ustad tersebut menyarankan dan memberikan pemahaman tentang pentingnya bisa sabar dan ridho, bersyukur atas musibah dan tawakal terhadap hasil akhirnya.

Awalnya terasa sangat berat dan sangat sulit untuk bisa menerima, memahami dan mengamalkan seluruh saran ustadz tersebut, namun sering berjalannya waktu, sedikit demi sedikit mulai bisa menerima dan memahami makna dari setiap anjuran tersebut.

Selain itu, karena seringnya amalan-amalan tersebut dilakukan silih berganti pagi siang dan malam, berdampak jadi "ketagihan" untuk bisa melakukannya lagi, karena pikiran, hati dan jiwa terasa "plong" ... lega rasanya, hilang resah, gelisah dan putus asa, serta semangat dan optimisme menguat kembali.

Saat timbul sikap dan perasaan demikian, akan diikuti dengan tawakal yang semakin kuat,  yaitu menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah semata, sangat yakin bahwa Allah PASTI akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya.


(bersambung)




TAHAP PENYEMBUHAN :

01 - 02 - 03 - 04 - 05 - 06 - 07 - (bersambung).



TAGS : tawakal, ikhtiar, tawakal dan ikhtiar, tawakal setelah ikhtiar, ikhtiar setelah itu tawakal