VIDEO Amalan Hati Ketika Wabah Virus Corona COVID - 19 (selengkapnya >>).

TAUBAT dan ISTIGFAR Jalan Kesembuhan.

Langkah selanjutnya dari Amalan Hati adalah segera melakukan taubat nasuha (dan perbanyak istigfar), agar terbuka jalan kesembuhan.

Sadarilah bahwa semua musibah (termasuk penyakit) yang dialami seorang hamba adalah karena dosa, maksiat maupun kedzaliman yang telah diperbuatnya.

 وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ 

 “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa. 42 : 30).

Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,

 مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

 “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87).

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, 

“Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87).




PROSES TAUBAT.

Berdasarkan pengalamannya saat melakukan taubat (dan perbanyak istigfar), berikut beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan, serta suasana hati yang hendaknya terbentuk saat bertaubat :

1. Menyadari Dosa.

Dengan penuh kesungguhan hati, cari - teliti dan temukan satu persatu dosa, maksiat ataupun kedzaliman apa saja yang pernah engkau lakukan, hingga menyadari ... ternyata karena dosa ini dan itulah yang menyebabkan mengapa aku menderita penyakit seperti ini.
  • Bisa jadi karena selama ini telah "mencampakan" Allah dalam kehidupan kita sehari-hari, mengabaikan perintahNya dan menjalankan laranganNya, lalai dalam shalat dan ibadah, berbuat maksiat atau telah berkata dusta.
  • Atau karena telah meyakiti hati kedua orang tua, membentak istri dan anak-anak .. namun lalai dalam menjalankan kewajibannya, atau telah berkata kasar dan sombong (arogan) kepada orang lain.
  • Atau karena telah mencuri - merebut - merampas hak orang lain, mengkhianati kepercayaan, tidak amanah, memfitnah - mengghibah - mendzalimi orang lain, atau telah membentak -berkata kasar dan sombong (arogan) kepada orang lain.

2. Sedih Dengan Dosanya.

Hati dan jiwa terguncang hebat setelah menyadari begitu banyak dan besarnya dosa-dosa yang telah engkau lakukan, disertai dengan rasa sedih yang mendalam, setelah menyadari ternyata begitu banyak dosa, maksiat dan kedzaliman yang telah aku lakukan. Tak terasa air mata terurai dengan deras, merintih, menangis sesegukan sejadi-jadinya.


3. Menyesal dan Malu.

Setelahnya timbul kemarahan dan penyesalan pada diri sendiri, disertai dengan rasa malu yang teramat sangat kepada Allah ... "mengapa engkau begitu beraninya melakukan dosa, maksiat dan kedzaliman ini, padahal ...

... Allah selalu memperhatikan dan mengawasimu, Allah Maha Mengetahui apapun yang telah kau lakukan, dan Allah Maha Mendengar apapun yang telah kau katakan, bahkan mendengar apa yang terbesit di dalam hatimu ...

... Sungguh aku malu kepadaMu ya Allah, Engkau selalu memperhatikanku ya Allah, Engkau selalu mengawasiku ya Allah, Engkau selalu melihat apapun yang aku kerjakan ya Allah, engkau selalu mendengar apapun yang aku ucapkan ... walau hanya sekedar besitan di dalam hati ya Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْيَذْكُرِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ اْلأَخِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ

“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu." (HR.at-Tirmidzi no. 2458, Ahmad I/ 387, al-Hâkim IV/323).  



4. Takut, Berharap dan Cinta.

Kemudian akan hinggap sekaligus rasa Takut (Khauf), Harap (Roja') dan Cinta (mahabbah) kepada Allah.

Ya Allah Engkaulah Al Aziz (Maha Perkasa), Engkaulah Al Qawiy (Maha Besar Kekuatannya), Engkaulah Al Matiin (Maha Perkasa), hanya Engkaulah yang bisa mengangkat segala keburukan yang menimpaku.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍقَدِيرٌ 

 "Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu." (QS. Al An'am. 6 : 17).


Sungguh azab dan siksaMu teramat pedih ya Allah ... apabila aku tetap mengabaikan perintahMu, tetap dalam kubangan dosa, maksiat dan kedzaliman.

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ ۚ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfal. 8 : 48).


أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Apakah kalian merasa aman dari makar Allah? Tidaklah ada orang yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf. 7 : 99).


Namun Engkau juga Maha Pengasih (Ar Rahman) Ya Allah, Engkau Maha Penyayang (Ar Rahim) Ya Allah dan Engkau Maha Pengampun (Al Ghafur) ya Allah, kasih sayang dan ampunanMu Maha Luas ya Allah, lebih luas dari seluruh dosa umat manusia.

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan Rahmat (kasih sayang)Ku meliputi segala sesuatu” (QS Al-A’raf. 7 : 156)


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa terhadap rahmat dari Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa, sungguh Dialah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar. 39 : 53).


5. Amalan Taubat dan Istigfar.

Lakukanlah taubat nasuha berulangkali, terutama pada saat-saat terijabahnya doa dan taubat, diantaranya yaitu:
  • Saat setiap 2/3 malam terakhir,  yaitu saat sujud dan saat setelah shalawat sebelum salam (shalat tahajud), ataupun doa dan taubat setelah shalat tahajud hingga masuk waktu subuh.
  • Saat sujud dan setelah tahiyat akhir - sebelum salam shalat apapun, baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah.
  • Saat setelah adzan shalat hingga iqamah shalat 5 waktu.
  • Saat didzalimi orang lain, atau saat-saat lainnya yang sesuai dengan syariah.
Sedangkan pengamalan istigfar dapat dilakukan setiap saat, kapan saja, tanpa terikat waktu dan tempat, termasuk saat dzikir pagi maupun saat-saat terijabahnya doa lainnya. Mengenai bacaan (Lafadz) Taubat dan Istigfar lihat : Bacaan (lafadz) Taubat dan Istigfar.


6. Tunaikan Hak Orang Lain.

Jika dosa berkaitan dengan hak / perbuatan kepada orang lain, datangi (atau hubungi) dan meminta maaf lah, dengan:
  • Mengembalikan barang miliknya yang telah dirusak, dicuri, atau semisalnya. Apabila orang tersebut ridha, minta agar di-ikhlaskan.
  • Melakukan Qishash (pembalasan) dengan perbuatan yang sama, misalkan engkau telah memukul atau menamparnya, maka mintalah agar dia melakukan hal yang sama kepadamu. Apabila orang tersebut ridha, minta agar di-ikhlaskan.
Namun apabila telah melakukan ghibah (menggunjing), fitnah (menuduh yang tidak benar), qodzaf (menuduh telah berzina) atau yang semisalnya, yang tidak diketahui bahwa dia telah dighibah atau di fitnah, maka bertaubatlah kepada Allah.

Kemudian pada saat berdoa, ungkapkan kebaikan-kebaikan orang tersebut serta senantiasa mendoakan kebaikan dan memintakan ampun untuknya. Sebab apabila engkau berterus terang kepada orang tersebut, dikhawatirkan akan menimbulkan peselisihan dan perpecahan diantara engkau dan dirinya.


7. Taat Ibadah dan Akhlak Mulia.

Perhatikanlah, apakah setelah berulangkali bertaubat dan beristigfar terdapat perubahan terhadap pemahaman dan akhlak, misalkan menjadi taat beribadah, shalat 5 waktu di masjid, sering menuntut ilmu syar'ie, condong kepada kebaikan, gemar beramal shaleh, atau menjadi berakhlaqul karimah.

Karena diantara tanda bahwa Allah menerima taubat seorang hamba adalah adanya amal soleh setelahnya.

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

“Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur. 24 : 5).


Berkaitan dengan taubat dan istigfar, seorang salaf berkata :

“Sesungguhnya seorang hamba bisa jadi berbuat suatu dosa, tetapi dosa tersebut menyebabkannya masuk surga.”

Orang-orang bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Dia menjawab, “Dia berbuat suatu dosa, lalu dosa itu senantiasa terpampang di hadapannya. Dia khawatir, takut, menangis, menyesal dan merasa malu kepada Robbnya, menundukkan kepala di hadapan-Nya dengan hati yang khusyu’.

Maka dosa tersebut menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungan orang itu, sehingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada ketaatan yang banyak.”



Amalan Hati selanjutnya adalah  : Berdoa Mohon Kesembuhan.



AMALAN HATI :
Awal Kisah - Allah Penyembuh  -  Taubat Istigfar  -  Doa Sembuh  -  Rukyah Mandiri  -  Sabar Ridho  -  Bersyukur  -  Tawakal Ikhtiar  -  (bersambung). Channel : AmalanHati.



TAGS : Taubat dan istigfar untuk kesembuhan, taubat dan istigfar, taubat jalan kesembuhan, istigfar agar sembuh, taubat, istigfar.

Tidak ada komentar: